KAWAN KAMI

Indonesia Dapat Memanfaatkan Perkembangan Ekonomi Asia Pasifik

(BusinessReview Online) - Ekonomi kawasan Asia belakangan ini telah menunjukkan kemampuannya untuk menjadi salah satu pemain utama ekonomi dunia, yang bersaing langsung dengan ekonomi barat.Pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut di dorong oleh peningkatan konsumsi domestik dan juga perdagangan antar kawasan beberapa tahun terakhir.

Asian Development Bank (ADB) memprediksi bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Asia pada 2013 akan mencapai 6,5% dan 6.7% pada tahun berikutnya, atau lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan PDB Amerika Serikat yaitu 3%dan perkiraan ekonomi Eropa yang di prediksi akan melambat 0,4%.Pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik (tumbuh 7,5% pada 2012)—40% dari ekonomi dunia—akan menjadi motor dari pertumbuhan dunia, terutama karena resiko adanya dampak negatif dari krisis Eropa dan AS telah menurun.

Cina dengan pertumbuhan 8%akan menjadi mesin pertumbuhandi seluruh Asia. India, dengan pertumbuhan 6%, akan memimpin pertumbuhan di Asia Selatan, dengan total pertumbuhan regional 5.7%. Di Asia Tengah, ekonomi meningkat karena peningkatan belanja publik di Azerbaijan dan Kazakhstan. Laju pertumbuhan ekonomi (PDB) Asia Tenggara—karena pulihnya ekonomi Thailand dan tingginya tingkat pembelanjaan di Filipina—diprediksi akan tumbuh 5.4% pada tahun ini dan 5.7% tahun berikutnya, salah satunya karena adanya dampak dari pembentukan ASEAN Economic Community tahun 2015 yang akan meningatkan perdagangan.

Karena kuatnya ekonomi kawasan tersebut, Australia mengeluarkan buku putih “Abad Asia” yang isinya menjelaskan 25 tujuan Australia untuk memanfaatkan pertumbuhan Asia, yang mana jika berhasil, pendapatan nasional meningkat dari $62,000 per kapita ke $73,000 tahun 2025. Sementara itu,Indonesia merupakan negara ketiga di Asia Pasifik, setelah India dan Cina, dengan pertumbuhan ekonomi terbesar.Dan baiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sedang menjadi perhatian dunia.

Walapun ekonomi Indonesia bersifat terbuka, yang mana akan terpengaruh dengan perkembangan perekonomian global dan regional, namun apakah prospek positif ekonomi Asia Pasifik akan terus memberikan imbas positif terhadap perekonomian Indonesia merupakan suatu hal yang harus dianalisa lebih lanjut.

Perekonomian Indonesia saat ini dinilai cukup kuat, dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 5.8% sepanjang 2013 dan diprediksi pada tahun 2014 akan mencapai sekitar 5.8% sampai 6.2%.Hal ini lebih tinggi dari laju ekonomi Asia tahun 2012, yang ditopang oleh ekonomi China-India-ASEAN yang secara agregat mengalami pertumbuhan sekitar 6.4%-6.6%, dan diprediksi akan tumbuh sekitar 6.5%-6.9% pada 2013.

Ekonomi Indonesia juga diperkirakan terus menguat meskipun negara-negara sekitar mengalami perlambatan, seperti China yang laju pertumbuhannya di perkirakan menurun dari 9.2% ke 7.6% dan India dari 6.5% ke 6.0%. Bahkan saat kunjungannya ke New York Stock Exchange tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Indonesia bisa menjadi Negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di Asia setelah Cina, dengan menggeser India.

Terlebih dari itu, laju ekonomi Indonesia lebih baik dari pertumbuhan ekonomi negara-negara OECD, dan bahkan diramalkan ekonom ternama AS Nouriel Roubini akan masuk dalam kelompok BRICS (Brazil, Russia, India, China, dan South Africa)dengan menggeser Rusia, khususnya karena jumlah kelas menengah yang besar, dan sumber daya alam dan pertanian yang banyak.Selain itu, konsumsi domestik yang kuat dan iklim investasi yang meningkat akan terus menjadi pendorong utama laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut ekonom Aviliani, sektor konsumsi di Indonesia cukup besar dan dominan dengan porsi sebesar 65%.Jumlah investasi saat ini 1/3 dari total belanja barang dan jasa Indonesia, meningkat 10% dari tahun lalu, dan memberikan dorongan sebesar 40% terhadap pertumbuhan PDB. Inflasi Indonesia juga dinilai dapat di tahan pada level 6% per tahun dalam beberapa tahun terakhir. Dan seperti kita ketahui, McKinsey & Co telah memprediksikan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketujuh di dunia, dengan adanya tambahan 90 juta masyarakat kelas menengah di Indonesia pada 2030.

Ada anggapan bahwa berkembangnya perekonomian Indonesia bukan karena “kekuatan” eksternal dari luar negeri yang menopang perekonomian Indonesia.Seperti yang ditulis oleh BAPPENAS, dampak krisis Eropa terhadap perekonomian Indonesia—diukur dengan empat transmisi, yaitu moneter dan keuangan (kondisi perbankan domestik, yield dari government bond, nilai tukar mata uang, dan perubahan harga saham), perdagangan (ekspor dan impor), fiskal (hutang luar negeri), dan investasi (FDI dan portfolio)—tidak terlalu signifikan. Hal ini karena perekonomian Indonesia di topang oleh konsumsi domestik yang kuat, sehingga apa yang terjadi di Eropa tidak mempengaruhi ekonomi Indonesia.

Namun, kondisi perekonomian regional mempunyai dampak yang berbeda terhadap perekonomian Indonesia khususnya karena adanya saling ketergantungan yang kuat antara perekonomian Asia Pasifik dengan perekonomian Indonesia.Sebagai contoh, negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah secara berurutan Cina ($20 milyar), Jepang ($17 milyar), AS ($14 milyar), India, Singapura, Malaysia, Korsel, dan Thailand,yang mana jika ekonomi Negara-negara tersebut memburuk, ekspor Indonesia akan terganggu.

Uni Eropa bukan termasuk pasar tujuan ekspor utama Indonesia, dengan jumlah volume perdagangan ekspor hanya sebesar $240 juta per tahun.Sedangkan negara-negara dengan impor terbesar ke Indonesia termasuk Cina, Jepang, Thailand, Singapura, dan Korsel, dengan nilai $15 milyar pada Februari 2013.

Keterkaitan perekonomian Indonesia dengan pasar regional lebih erat daripada keterkaitan perekonomian Indonesia dengan pasar regional lain, misalkan Uni Eropa.Terbukti walaupun perekonomian Indonesia kuat sebelum 1997, saat krisis finansial memburuk, Indonesia adalah negara yang terkena imbas paling parah diantara negara lainnya termasuk Cina, Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Karena itu, walaupun konsumsi domestik Indonesia saat ini sangat kuat (yang mana karena hal ini perekonomian Indonesia dapat terhindar dari krisis Eropa), perekonomian Indonesia akan terpengaruh dengan kondisi perekonomian di Asia Pasifik. Hal ini berbeda dengan perkembangan di Eropa.Jika krisis dan recoverykrisis perekonomian Eropa tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik atau buruknya perekonomian Asia Pasifik akan memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian Indonesia, seperti halnya waktu krisis finansial Asia 1997. Dengan demikian, positifnya perkembangan perekonomian Asia Pasifik saat ini merupakan sebuah “angin segar” bagi perekonomian Indonesia.

Walaupun kuatnya perekonomian Asia Pasifik akan memberikan pengaruh baik terhadap Indonesia, namun Indonesia harus juga memastikan bahwa semua sektor ekonomi berjalan dengan baik, termasuk masalah pengangguran dan pemerataan. Menurut International Labor Organization (ILO) kaum muda di Indonesia diperkirakan 4.6 kali lebih besar menjadi pengangguran dibanding pekerja dewasa; hal ini lebih tinggi dari skala global yang hanya 2.8 kali. Sedangkan dengan tingkat pengangguran usia muda (15-29 tahun) di Indonesia mencapai 19,9%, lebih tinggi dari Srilanka 17.9% dan Filipina 16.2%—Indonesia mempunyai pengangguran usia muda tertinggi di Asia Pasifik.

Selain itu, masalah pemerataan ekonomi juga belum maksimal. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mungkin yang tertinggi di Asia Pasifik, mencapai 5-6%. Namun dalam hal penurunan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kalah dengan negara kawasan, sehingga ketimpangan ekonomi masih sulit untuk dipangkas.

Sebagai contoh, seperti yang diutarakan oleh INDEF, satu persen pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu menurunkan kemiskinan sebanyak 0.88%, sementara Thailand bisa menurunkan sebanyak 5.6%, Malaysia 2.99%, Filipina 1.08%, dan Vietnam 0.98%. Sementara koefisien gini kita masih tinggi di angka 0.41.

Selain itu, kebijakan fiskal yang memberikan subsidi energi sebanyak Rp 300 triliun pada akhirnya hanya membantu kalangan kelas menengah keatas, selagi orang-orang kalangan bawah di daerah tertinggal dan perbatasan masih membeli bensin dengan harga lebih dari dua kali lipat. Karena itu jika Indonesia ingin mengambil manfaat dari perkembangan perekonomian Asia Pasifik, persoalan “rumah tangga” seperti hal tersebut harus juga diperhatikan terlebih dahulu.Diaz Hendropriyono, Alumni Lemhannas PPRA 49 tahun 2013